Friday, 7 March 2014

Catatan Tepi Laga Indonesia U-23 vs Malaysia U-21


Semalam, Stadion Maguwoharjo, Sleman sekali lagi diminta untuk menjadi tempat laga dari Timnas Indonesia untuk menjamu lawannya dari negeri seberang. Dari segi hasil, Indonesia sukses mematahkan taring Harimau Malaya dengan kedudukan yang cukup meyakinkan, yaitu tiga gol tanpa balas. Namun, diluar hasil yang sepintas tampak mengesankan tersebut, ada beberapa catatan tepi yang tentu tak dapat ditepikan begitu saja.

1394107388170168644
Menyatukan Optimisme

Setelah sempat menjamu Brunei Darussallam dan Timor Leste beberapa waktu yang lalu, publik sepakbola di DIY seolah dibuai dengan kabar yang menyebutkan mengenai akan digelarnya kembali sebuah laga persahabatan internasional di daerah istimewa ini. Kabar tersebut menjadi semakin menarik saat mengetahui tamu yang akan hadir adalah kesebelasan Malaysia, yang tak lain adalah rival utama Indonesia. Ya, seperti dikabarkan berbagai media massa dan media promosi yang ada kala itu, konon Timnas Indonesia U-23 yang diproyeksikan untuk ikut bertarung di gelaran Asian Games di Incheon, Korea Selatan pada tahun ini akan bersua Malaysia U-23 di Sleman. Tentu sebuah pertandingan yang panas dan berimbang mengingat keduanya berada pada level umur dan permainan yang kurang lebih sepadan. Dan hal tersebut tentu patut ditunggu.

139410756984431086
Pembredelan: Anti Kritik?

Semakin mendekati hari pelaksanaan, panitia pelaksana pertandingan pun mempublikasikan biaya yang harus ditebus untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Rentang harga tiket antara Rp. 30.000,00  untuk tiket kelas kurva hingga Rp. 75.000 untuk tiket kelas VVIP, menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi publik sepakbola di Yogyakarta. Ya, dengan standar kehidupan warga di DIY yang tidak terlalu tinggi, harga tersebut dapat dikatakan relatif mahal. Sebagai pembanding, tiket kelas kurva untuk laga melawan Brunei Darussalam pada saat itu hanya dibanderol Rp. 20.000,00 saja. Bagi publik lokal, selisih harga tersebut bisa saja setara dengan dua kali makan malam mereka. Sayang, gelagat tersebut sama sekali diabaikan oleh panpel. Mungkin inilah cerminan sepakbola modern di Indonesia. Saat fans dan pemain tak lagi memiliki sepakbola, melainkan uang yang justru telah menjadi tuannya.
1394107652167906078
Aksi Poznan ala Suporter Indonesia

Satu, dua hari berlalu dan tiket sudah dilepas ke publik dengan sistem pre-order. Hingga tetiba berhembus kabar bahwa lawan yang akan dihadapi oleh Timnas Indonesia U-23 mengalami perubahan. Bukan Malaysia U-23, melainkan Malaysia U-21 yang berkompetisi di Liga Singapura. Pahit bagi saya yang sudah terlanjur memesan tiket. Bukan, ini bukan perbincangan masalah nasionalisme, melainkan mengenai hak dari seorang konsumen (baca: penonton). Ini adalah permasalahan mengenai trust and satisfaction dari pihak yang mengkonsumsi sebuah tawaran  produk. Bagaimana tidak kecewa, ibarat kata saya memesan semangkok mie ayam namun yang dihidangkan dihadapan saya hanyalah mie instan dalam kemasan. Dua menu yang berasal dari pokok yang sama namun berbeda dalam masalah cita rasa dan tentu saja, harga. Namun apa daya, di negara ini konsumen (baca: penonton) hanyalah dapat berteriak dalam ruang kedap suara. Ah, sial!
1394107791421388612
Koreografi Untuk Indonesia
Kekecewaan ini semakin mendalam saat mengetahui lambannya klarifikasi ataupun penjelasan resmi dari federasi akan hal tersebut kepada publik secara luas. Bahkan hingga satu hari menjelang, beberapa media massa (khususnya cetak) pun seolah masih belum menyadari akan perubahan lawan yang akan dihadapi Indonesia U-23. Tentu menyedihkan saat melihat organisasi sebesar PSSI belum memiliki kepedulian dan kapabilitas dalam berkomunikasi dengan publiknya dengan baik. Ironis bukan?

13941081171401255070
Kibaran Merah Putih
Ingin sekali rasanya meminta refund, mengingat informasi mengenai perubahan lawan Indonesia U-23 ini baru mulai terpublikasikan saat tiket sudah terlanjur saya pesan dan menyaksikannya dari layar kaca saja. Terlebih, saya bukan berasal dari kalangan ekonomi atas. Namun rasanya kok tidak adil jika saya menumpahkan kekesalan terhadap federasi kepada timnas yang sedang berjuang agar layak menjadi representasi bangsa Indonesia di pentas olahraga internasional.
1394108208355368104
Terkapar
Tapi, ah sudahlah. Toh, ini sebenarnya saya bukan menjadi satu-satunya pihak yang dirugikan. Dilihat dari kacamata citra dan reputasi, situasi seharusnya disadari menjadi sebuah kerugian tersendiri bagi PSSI. Apa yang telah tergelar kemarin adalah sebuah panggung terbuka yang menunjukkan sejauh mana kelas dan kualitas lobi serta kekuatan relasi yang dimiliki PSSI di dunia sepakbola internasional. Berbagai pembatalan rencana ujicoba oleh federasi lawan hingga yang terakhir mengenai pergantian timnas Malaysia yang dikirim ke Sleman, seharusnya menjadi sebuah tamparan yang menghadirkan rasa malu bagi federasi. Ya, semoga saja mereka masih bisa merasa.
13941083331158108790
Tribun Utama
Dan pada gelaran semalam, Stadion Maguwoharjo telah selesai menunaikan tugasnya. Hanya saja menjadi sesuatu yang tidak biasa saat melihat dua kurva yang ada Sleman tampak lebih lengang. Tidak terlihat kepadatan yang sedemikian rapat seperti kala menggelar laga internasional sebelumnya. Tidak pula terlihat antusiasme dan gairah yang sedemikian menggelora saat stadion itu memanggungkan laga-laga klub lokal daerah tersebut di kompetisi reguler. Begitu banyak ruang-ruang yang tersisa di berbagai sudut, terutama di kedua kurva dan Tribun VIP serta VVIP. Dari pengamatan yang saya lakukan, praktis hanya Tribun Timur yang merupakan tempat dimana saya duduklah, yang relatif ramai. Mungkin panpel bisa saja mengelak dengan menuding faktor cuaca  yang tidak bersahabat dan lainnya sebagai penyebab minimnya penonton. Namun, saya pribadi tetap berharap agar mereka tidak abai bahwa sejatinya sepakbola itu (idealnya) tidaklah melulu mengenai uang.
13941088241205859502
Akhir Sebuah Laga
Sementara itu, mengenai adanya insiden pelemparan gelas air mineral ke lapangan dan gesekan antara polisi dengan penonton paska laga tadi malam, saya pribadi hanya bisa mengungkapkan rasa prihatin. Dengan label rival bebuyutan, duel semalam sudah menurunkan jumlah keamanan yang bisa dibilang sangat banyak. Namun sekali lagi, ini masalah kualitas dan bukan kuantitas. Percuma ada ribuan jumlah keamanan jika tidak ada langkah strategis yang diambil. Stadion tidak membutuhkan kehadiran penonton tambahan, melainkan pihak-pihak yang mampu mengambil tindakan pencegahan secara simpatik pada kemungkinan munculnya kericuhan dan hal-hal negatif lainnya. Dan dalam opini saya pribadi, apa yang terjadi semalam juga menunjukkan kegagalan sistem keamanan yang diterapkan. Bukannya sikap preventif dan persuasif yang dikedepankan, justru sikap reaktif dan represif yang terjadi lapangan. Karena dalam pandangan saya, kerusuhan bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, melainkan sesuatu yang harus dicegah. Dengan demikian, ayunan tongkat rotan dan tembakan (entah gas air mata atau apa) yang dilepaskan semalam seharusnya tak perlu terjadi jika ada pencegahan melalui komunikasi dua arah yang apik, bukan justru disalurkan lewat benturan fisik. Dan sebagai pihak yang berkewenangan, alangkah bijaknya jika Kepolisian juga dibekali kemampuan menggunakan persenjataan yang mereka miliki untuk mengendalikan situasi, bukan justru membuat situasi tak terkendali. Harus disadari bahwa setiap mahkluk, termasuk penonton sepakbola, memiliki mekanisme dan naluri pertahanan diri. Saat mereka diancam mereka melawan, saat diperlakukan secara layak mereka pun pasti tak akan berontak.

Namun, demikian, apapun yang tertulis di atas, bagi saya pribadi sepakbola adalah milik semua yang  mencintainya dan didalamanya tidak akan pernahada pembenaran untuk setiap bentuk kekerasan yang terjadi.

Lekaslah engkau sembuh, (federasi) sepakbola Indonesia.

Apa Itu Anonymous?


Anonymous adalah kelompok Aktivis atau "Hacktivis" yang dibentuk pada tahun 2003. Para anggotanya dapat dibedakan di depan publik dengan mengenakan topeng Guy Fawkes atau yang biasa dikenal V for Vendetta. Pada tahun 2011, Majalah Time memasukkan nama "Anonymous" sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia.

Anggota Anonymous saat mengikuti Occupy Wall Street

Anggota Anonymous di salah satu aksi demonstrasi

Pesan dari Anonymous

Waktunya telah tiba bagi orang-orang di dunia untuk bersatu. Anda tidak dapat menunggu untuk sebuah Revolusi, anda adalah revolusi itu sendiri, kami adalah revolusi, kekuatan kami adalah pada jumlah.
Anonymous memerlukan bantuan anda, orang-orang di seluruh dunia meminta bantuan anda!
Kami melakukannya karena kami bisa! Kami melakukannya untuk masa depan anak-anak kami dan semua kehidupan di planet ini. Kami melakukannya karena kami melihat kebohongan dan tipuan. Anonymous adalah semua orang. Semua orang adalah Anonymous. Sekarang! anda juga bisa menjadi Anonymous. Bergabunglah dengan kami, Anonymous!
We do not forget.
We do not forgive. We are legion. Expect us.

Keanggotaan

Tidak ada cara bagaimana bergabung dengan Anonymous, karena kita semua bisa menjadi Anonymous, Anonymous tidak memiliki pemimpin dan tidak memiliki struktur organisasi.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anonymous

Thursday, 6 March 2014

Suporter Tampilkan Koreografi Bentuk Bendera Merah Putih


Aksi kreatif kembali dipertontonkan para suporter Indonesia saat laga Indonesia U-23 vs Malaysia U-21 di stadion Maguwoharjo, Rabu (5/3/2014) malam. Para suporter memeragakan sebuah koreografi menggunakan potongan kertas.
Atraksi ini dilakukan oleh kelompok suporter di tribun selatan, belakang gawang. Potongan kertas yang jumlahnya ribuan disusun menjadi bentuk bendera Indonesia, merah putih.
Di tengah merah putih itu, ada tulisan INA yang merupakan inisial resmi Indonesia di dunia sepak bola internasional. Atraksi terus berlanjut dengan memainkan kertas itu naik turun dan dikepak-kepakkan.
Para penonton yang melihat dari sisi tribun lainnya memberikan tepuk tangan atas aksi itu. Selesai melakukan kereografi, para suporter mengepal-kepal kertas kemudian dilemparkan bersama-sama ke lapangan.
Aksi suporter di Yogya dalam memberikan dukungan memang sering mendapat pujian. Bahkan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin sengaja melihat langsung pertandingan itu untuk melihat atraksi penonton.
"Saya nanti mau nonton langsung ke stadion, mau lihat atraksi penonton. Bagus sekali atraksi mereka, saya kagum," kata Djohar sebelum pertandingan.
Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2014/03/05/suporter-tampilkan-koreografi-bentuk-bendera-merah-putih/

Tuesday, 4 March 2014

Laga Timnas Indonesia U-23 vs Malaysia U-23 "No Flare!

Ilustrasi: Flare di pertandingan sepakbola

Para suporter yang menyaksikan laga persahabatan internasional antara Timnas Indonesia U-23 vs Malaysia U-23 di stadion Maguwoharjo diharapkan bisa berlaku tertib. Hal-hal sepele semacam menyalakan petasan, kembang api, atau harus dihindari agar Yogyakarta terus bisa dipercaya PSSI untuk menggelar laga timnas yang berskala internasional.
Yogyakarta terbilang beruntung karena dilirik oleh PSSI untuk menggelar laga uji coba tim Garuda Muda dalam persiapan menuju Asian Games 2014 di Korea Selatan. Sebab, ada banyak kota-kota lain di Indonesia yang memiliki fasilitas stadion berstandar internasional lengkap dengan fasilitas pendukung lainnya.
"Ketertiban penonton menjadi salah satu pertimbangan bagi PSSI untuk memilih lokasi pertandingan bagi timnas. Dan Yogya ini, ketertiban suporternya terbilang cukup bagus bila dibanding kota-kota lain," kata Syauqi Soeratno, Chairman LOC pertandingan Timnas U-23 vs Malaysia.
Agar pertandingan tersebut bisa berjalan lancar, Syauqi berharap para kelompok suporter di seluruh Yogya bisa tertib tanpa harus menyalakan flare sepanjang pertandingan. Bila para suporter tetap nekad menyalakan flare dan sejenisnya, justru mereka sendiri yang akan merugi.
"Bisa jadi citra Yogya di mata PSSI yang selama ini suporternya dinilai tertib akan berubah. Imbasnya, pertandingan timnas bisa saja digelar di kota lain. Kalau begitu yang rugi nanti kan masyarakat Yogya sendiri," kayta Syauqi lagi.
Bersahabatnya Kota Gudeg juga terbukti dengan digunakan sebagai "padepokan" bagi timnas U-19 dan timnas U-23 yang menggelar pemusatan latihan. Bahkan bagi timnas U-19, sampai menggelar tiga pertandingan uji coba di Yogyakarta. "Yogya ini sudah seperti kandang kedua bagi semua timnas," kata Syauqi lagi.
Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2014/03/03/laga-timnas-indonesia-u-23-vs-malaysia-u-23-no-flare/

Ketika Negara Kalah Dari Suporter Sepakbola

Pertandingan antara Persib menjamu persija dalam lanjutan Kompetisi Liga Super Indonesia 2014 yang sedianya digelar sabtu 22 Februari 2014 akhirnya batal digelar, tidak keluarnya izin dari pihak kepolisian menjadi penyebab utama, otoritas keamanan beralasan bahwa pertandingan ini berpotensi untuk mengganggu keamanan dan ketertiban serta berpotensi konflik yang mengganggu masyarakat, pertanyaannya adalah: apa semenakutkan itu ancaman dari sebuah pertandingan sepakbola di negeri ini sehingga kepolisian dengan seluruh kemampuan dan sumberdaya yang yang dimilikinya merasa tidak akan mampu mengatasi situasi yang mungkin terjadi?

Rivalitas Suporter

Ada semacam kekeliruan yang naïf ketika kita ingin mencari solusi terhadap perseteruan supporter sepakbola di Indonesia, kita selalu menyodorkan sesuatu yang tidak rasional, tidak konkret, dan terlalu mengawang-awang yaitu perdamaian. Bukannya tidak setuju terhadap perdamaian, usaha kearah sana layak diapresiasi dan mendapat dukungan semua pihak namun kita pun harus mengakui bahwa dalam perseteruan supporter sepakbola berlaku hukum “sekali api menyala maka akan sulit memadamkannya” ibarat sekali memulai maka jangan harap untuk mengakhirinya dengan mudah, ini mencakup kondisi sosiologis dan psikologis supporter sepakbola yang berseteru. Kita pun harus menerima kenyataaan bahwa permusuhan ini telah berlangsung bertahun-tahun dan tertanam diakar rumput, sehingga tidak lucu juga ketika pertandingan tinggal memasuki hitungan hari kemudian muncul pihak bagai sosok malaikat yang menyerukan perdamaian. Solusi yang rasional bukanlah kearah didamai-damaikan karena hanya akan menguras energi, namun diarahkan bagaimana caranya untuk meminimalisir konflik agar tak merugikan masyarakat umum dan jangan sampai para pemain menjadi korban. Tidak mudah memang, namun tentunya itu bisa dilakukan, berkaca ke luar negeri, rivalitas klub yang merembet kepada rivalitas suporter terjadi lebih “gila” bahkan berlangsung hingga puluhan tahun, namun tak pernah ada ceritanya ketika Boca Junior berhadapan dengan River Plate di Argentina maka kemudian pihak kepolisian di Argentina melarang pertandingan tersebut, yang ada adalah otoritas keamanan setempat menghadapi pertandingan ini lebih serius dan melakukan persiapan lebih dari biasanya, berbagai antisipasi pun dilakukan. Karena memang itulah fungsi dan tugas mereka dalam konteks bernegara, yaitu menjaga dan menjamin keamanan. Selain itu otoritas sepakbola di setiap negara pun dituntut mampu memerankan peranan dengan baik, upaya minimal yang sudah dianggap universal adalah pemberlakuan prinsip “dosa suporter ditanggung klub”, ini diharapkan mampu menjadi sebuah kontrol bahwa jika suporter tersebut memang benar-benar mencintai klubnya maka sebajingan apapun dia, maka dia dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan tim kesayangannya.

Peranan Aparat

Pasca reformasi, pemisahan TNI-POLRI menjadi tegas, bahwa TNI memiliki fungsi pertahanan seperti mempertahankan batas Negara, perang dsb, sementara POLRI memiliki fungsi keamanan yang berorientasi kepada kondusifitas dalam negeri, keamanan dalam pertandingan sepakbola sebagai agenda nasional jelas menjadi ranah kepolisian. Pemisahan TNI-POLRI yang ditegaskan melalui peraturan perundang-undangan setingkat undang-undang selain bertujuan mempertegas fungsi dan kewenangan institusi pun dimaksudkan agar keduanya mampu fokus serta meningkatkan profesionalisme, salah satu parameternya adalah memiliki kemampuan untuk menanggulangi segala persoalan yang menjadi tugasnya dengan lebih baik dan cakap, dalam hal ini pihak kepolisian dianggap mampu dan berdaya untuk menangani masalah keamanan yang timbul dari titik manapun termasuk konflik  keamanan dalam sepakbola, karena untuk itulah mereka memiliki SDM yang dilatih, dipersenjatai, dan memiliki kewenangan untuk menegakan hukum, karena solusi yang paling logis adalah  penegakan hukum secara tegas, khususnya hukum pidana yang telah mengatur secara lengkap tindakan-tindakan suporter sepakbola yang biasa terjadi dan mengarah kepada kriminal murni, seperti perusakan barang, penganiayaan, membawa senjata tajam, minuman keras dan narkoba, hingga pelanggaran di jalan raya, semua itu jangan sekedar dianggap tipiring. Tapi proses serius jika terbukti memenuhi delik pidana, penjarakan agar jera, terutama jika semua tindakan suporter itu sudah terjadi di luar 2×45 menit pertandingan kedua tim.

Maka jelaslah ketika menghadapi pertandingan sepakbola yang berpotensi konflik, tugas dari kepolisian adalah mengamankan jalannya pertandingan, bukan meniadakannya, jangan selalu ingin berpikir mudah dan sederhana untuk persoalan-persoalan serius yang mungkin perlu diselesaikan dengan pemikiran dan upaya ekstra. Ketika pertandingan ini dianggap berbeda dari pertandingan lainnya, maka hadapi pula dengan cara yang berbeda, tambah personil keamanan, jika biasanya tak pernah melakukan survey maka lakukan survey dan analisa sebelum pertandingan, dengan segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki tentunya pihak kepolisian mampu melakukannya. Sepakbola sebagai tontonan dan agenda olahraga nasional adalah hak warga negara, dan negara wajib hadir untuk mengawasi dan memastikan agenda ini berjalan lancar dan hak warga Negara terpenuhi.

Sumber: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/03/05/ketika-negara-kalah-dari-suporter-sepakbola-639421.html

Foto Aksi Brigata Curva Sud Saat Disorot Kamera TV

















Jelang Duel Clasik Indonesia vs Malaysia

1393850772670952574
gambar :www.artisbola.com
Timnas Indonesia U-23 dan Timnas Malaysia Uu-23, akan saling bertemu dan saling baku hantam dalam pertandingan persahabatan yang akan di gelar di Yogyakarta 5/03/2014 pertengahan pekan ini.pertandingan perdana Indonesia VS Malaysia Ditahun 2014 ini akan menyita Perhatian pecinta sepak bola tanah air.

Biarpun pertandingan ini hanya pertandingan uji coba.Pertandingan ini di perkirakan akan tersaji panas, mengingat sejarah perseteruan dan persaingan kedua tim ini dilevel Asia Tenggara. bukan hanya di lapangan hijau di dunia maya pun tak kalah hebat kedua supporter saling serang jelang pertandingan tersebut .

Malaysia yang mempunyai Misi balas dendam Atas kekalahanya pada ajang Sea Game Myanmar kemaren yang harus mengakui ke unggulan Indonesi 5-4 dengan drama adu penalty dan mempupuskan ambisi mereka untuk melaju ke final di sea game Myanmar ,Malaysia akan berjuang mati-matian untuk membalas dendam sekaligus mempermalukan Timnas Indonesia Di depan pendukungnya sendiri. Tapi sayangnya Timnas yang akan di turunkan melawan Indonesia adalah TIMNAS MALAYSIA u-23 B,

Sementara Timnas Indonesia U23 yang akan bertanding di hadapan pendukungnya sendiri tentunya tidak mau kehilangan muka, mereka akan berjuang Sekuat tenaga untuk melumat timnas malaysia u-23. Kemenangan atas Malaysia tahun yang lalu akan memberi nila plus bagi Timnas besutan aji santoso tersebut. Selain itu Timnas u-23 tak ingin menyia-nyikan hal ini untuk mengangkat pamornya di mata pendukung Timnas Indonesia yang pada akhir-akhir ini selalu tertuju pada TIMNAs U-19. Dengan munculnya pemain-pemain baru di harapkan hal ini menjadi gebrakan timnas u-23.

Pertandingan ini di jadikan pertandingan pemanasan pertama dari 9 pertandingan yang akan di jadwalkan sekaligus sebagai persiapan jelang tampil di ajang Asian Games, Korea Selatan, September-Oktober 2014.

Skuad Garuda Muda U-23

PENJAGA GAWANG:
1. Dimas Galih Pratama (PERSIJAP Jepara)
2. Aji Saka (PERSEPAM Madura United)
3. Yogi Triana (PERSITA Tangerang)
4. Teguh Amiruddin (PERSERU Serui)

PEMAIN BELAKANG:
1. Dany Saputra (PERSIJA Jakarta)
2. Muhammad Nizar Ashari (PERSEBA Super Bangkalan)
3. Mokhamad Syaifudin (PBR Bandung Raya)
4. David Aprelianto (PSMP Mojokerto Putra)
5. Vava Mario Yagalo (PERSEBAYA Surabaya)
6. Novrianto (PSPS Pekanbaru)
7. Achmad Bachtiar (PERSEKAP Pasuruan)
8. Syahrizal (PERSIJA Jakarta)

PEMAIN TENGAH:
1. Rizky Ahmad Sanjaya Pellu (PBR Bandung Raya)
2. Rasyid Assyahid Bakri (PSM Makassar)
3. Loudry Meilana Setiawan (Putra Samarinda)
4. Novri Setiawan (PERSEBAYA Surabaya)
5. Yulianto (PSS Sleman)
6. Fandi Eko Utomo (PERSEBAYA Surabaya)
7. Tonny Roy Ayomi (PERSERU Serui)
8. Dave Mustain (PERSEKAP Pasuruan)
9. Bayu Gatra Sanggiawan (Putra Samarinda)
10. Rizki Ramdani Lestaluhu (PERSIJA Jakarta)
11. Hendra Adi Bayauw (Semen Padang FC)
12. Hafid Ibrahim (Sriwijaya FC Palembang)

PEMAIN DEPAN:
1. Agung Supriyanto (PERSIJA Jakarta)
2. Fandi Ahmad (PERSEBA Super Bangkalan)
3. Rizky Dwi Ramadhana (Sriwijaya FC Palembang)
4. Aldaier Makatindu (Putra Samarinda)

Skuad Harimau Muda B
Penjaga gawang: Ahmad Solehin Mamat, M. Ramdhan Ab Hamid

Bek: Mohd Akmal Chin, Mohamad Ashmawi Md Yakin, Muhammad Afi Azuan, M Syazwan Zaipol Bahari, Azrul Nizam Muhammad, Abdullah Suleiman, M. Syawal Nordin, Annas Rahmat

Gelandang: Sahrul Igwan Samsudin, M. Naim Zakaria, M. Nor Azam Azih, M Faris Shah Mohd Rosli, M. Irfan Zakaria, M. Afiq Fazail

Penyerang: M. Syafwan Syahlan, Ramzi Haziq Mohamad, M. Ramzi Sufian, Nurshamil Abd Ghan

Sumber: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/03/03/jelang-duel-clasik-indonesia-vs-malaysia-636097.html