Saturday, 22 February 2014

Apa itu A.C.A.B?


A.C.A.B dengan singkatan A.C.A.B. All Cops Are Bastard itulah kepanjangannya, hmm nampaknya dari kata tersebut mungkin langsung pada mengerti apa artinya secara hirarki kata “SEMUA POLISI ADALAH BAJINGAN !!!”, thats right dude… mengapa demikian??

Berasal dari setidaknya tahun 1940-an, dan digunakan sebagai slogan selama mogok para penambang Inggris, ACAB adalah singkatan sering diintegrasikan ke dalam penjara di Inggris, hal ini paling sering diberikan dengan satu huruf antara buku jari dan sendi pertama setiap jari, alternatif kadang terlihat sebagai titik kecil di seluruh buku jari simbolis masing-masing.

Sebenarnya ada beberapa versi kelompok yang mengamalkan A.C.A.B dalam suatu pergerakan mereka. Pada umumnya kelompok ini adalah kelompok dengan ras extrimis kiri, dimana ras ini menolak keras akan suatu ketidak adilan yang didapatkan dari Cops atau polisi. Kelompok extrimis itu salah satunya kelompok Ultras.

 Ultras adalah kelompok suporter anti terhadap polisi, alasan mereka menolak keras terhadap polisi adalah para polisi yang selalu mengacau dimana cita-cita ultras yang bertolak belakang dengan polisi. Para polisi biasanya menggunakan/atas nama keamanan mereka semena-mena terhadap kelompok yang memperjuangkan hak dan cita-cita mereka.
 Pasalnya jika terjadi insiden kecil saja, mereka memperbesar sutau insiden yang seharusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin, mereka mencammpuri, memprovokasi dan berpura-pura menangani situasi dimana hati mereka bersungguh-sungguh menghakimi dengan keji.


Dalam politik modern, baik neo-Nazi Skinhead dan sayap kiri / anarkis bajingan menggunakan “ACAB” sebagai slogan. Pada 7 Januari 2011, tiga penggemar sepakbola Ajax didenda karena memakai t-shirt dengan angka 1312 dicetak pada mereka. 1312 singkatan ACAB. Salah satu fenomena yang dekat dengan A.C.A.B adalah seluruh kelompok ultras di Italia menolak keadaan posisi polisi di dekat mereka di saat pertandingan sepakbola.

Para ultras yang mempunyai basis tempat tersendiri (biasanya berposisi di belakang gawang, baik utara maupun selatan) melarang keras polisi mendekat, jika mereka mendekat sejengkal, perlawanan akan membrutal nyawa pun harus jadi tumbal. Terbukti pada kerusuhan di genoa 1 polisi mati akibat para ultras yang membrutal akibat tingkah polisi yang frontal.

Postingan ini saya terinspirasi dari seoranag yang sangat saya kagumi dimana kekaguman saya terhadapnya melebihi kekaguman terhadap presiden yang sangat menyebalkan yang lebih menyebalkan dari koneksi saya yang menurun secara ekspektasi, dimana dia menulis tentang police, dimana dia mengungkapkan kekesalanya dengan sedikit tulisan yang lugas, mengiris, dan extrimis !!!!, saya mulai terinspirasi dengan pemikirannya yang saya terapkan dalam jalan klompok ultras, karena saya sendiri seorang ultras. Dan slogan ALL COPS ARE BASTARD !!!! slalu melekat dalam diri.

Sumber: http://ultrasin-indonesia.blogspot.com/p/blog-page.html

Foto-Foto Atraksi Suporter Indonesia Terbaik

PERSELA LAMONGAN =
 

PSS SLEMAN =

PERSEGRES GRESIK =

PERSIS SOLO =

PERSIK KEDIRI =

PERSITA TANGERANG =

PERSEPAM MADURA =

DELTRAS SIDOARJO =

PSCS CILACAP=

PSIM JOGJAKARTA=

PERSIJAP JEPARA=

PPSM MAGELANG =

INDONESIA (TIMNAS) =

PSIS SEMARANG=

PERSIBA BANTUL=

PERSIKU KUDUS =

PERSETA TULUNGAGUNG=

PSMP MOJOKERTO=

PERSIB BANDUNG =


Sumber: http://ultrasin-indonesia.blogspot.com/2013/04/best-photo-atraction-march-2013.html

Fakta Unik CNF

Supporter paling kece di Bantul ini menjadi sorotan publik karena kekerenannya. Kereatif dan bombastis membuat Bantul lebih hitam sehitam hitamnya. Ane selalu menyoroti penonton yang menamai anggotanya CNF ini. Curva Nord Famiglia yang entah berantah artinya kalo di artikan Indonesia menurut tatanan bahasa saja sudah salah kaprah sebenarnya. Untuk saja supporter ini kece sekali jadi Ane akan menguak fakta unik tentang CNF ini.

1. Rajanya Copy Paste
CNF mempunyai logo spider dibelakangnya yang diambil dari logo Brand Spiderblitz. CNF juga mengopy rata rata lagu Brigata Curva Sud. Bukan hanya itu kata kata dan spanduk pun mereka copy paste sampai kostum pun mereka sama hitam hitam. Ultras katanya, padahal sebenar benarnya ultras tidak harus hitam.

2. Penyelamat PERSIBA Bantul
Kaga bisa dipungkiri bahwa Sultan Agung memang sedang krisis. Apalagi ditambah Bapak Idham di tetapkan sebagai tersangka dana hibah tim Persiba mengalami krisis financial. Namun penyelamat datang dari barisan supporter ini yang berjanji membantu keuangan Persiba. Namun sayangnya nihil bahkan saat the real supporter Paser Bumi melakukan aksi penggalangan dana supporter CNF ini tidak terlihat batang hidungnya.

3. Supporter yang diakui Club
CNF adalah supporter yang diakui club? ketika terjadi masalah seperti ini siapa yang diajak “rembukan”? ternyata masih the real supporter Paser Bumi. Memikirkan masa depan Persiba dengan managemant untuk Persiba Bantul. Kemana CNF ? Sekolah mungkin jawabanya.

4. Rata Rata Supporter Berusia SMP
CNF ternyata memeliki masa yang banyak sekali. Banyaknya supporter ini di dominasi anak anak SMP dan SMA yang “nggembelo” tapi kece dan keren. Terkadang tingkah lakunya dilapangan mengundang kelucuan bagi para pemirsa stadion sultan agung.

Itulah beberapa fakta unik seputar CNF yang kece dan keren.

Sumber: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2013/07/25/fakta-unik-cnf-579683.html

Friday, 21 February 2014

Apa itu Brigata Curva Sud?

BrigataCurvaSud.jpg
Brigata Curva Sud atau lebih dikenal dengan sebutan BCS adalah salah satu komunitas pendukung / supporter kesebelasan sepak bola PSS Sleman. Brigata Curva Sud bermarkas di tribun selatan Stadion Maguwoharjo yang juga dipakai sebagai nama komunitas tersebut "Curva Sud". Brigata Curva Sud berbeda dengan suporter sepakbola Indonesia pada umumnya, mereka memiliki cara unik tersendiri untuk mendukung tim kesayangannya PSS Sleman. Salah satunya, melakukan koreografi disaat pertandingan berlangsung seperti ultras-ultras di Italia pada umumnya. Brigata Curva Sud mewajibkan anggotanya untuk bersepatu dan berpakaian rapi disaat mendukung tim kebanggaan mereka PSS Sleman.
Saat mendukung PSS Sleman, mereka bernyanyi tanpa henti selama 2x45 menit dan uniknya mereka tidak pernah menyanyikan chant yang berbau rasis seperti kebanyakan suporter sepakbola di Indonesia. Chant mereka pun berbeda dengan suporter Indonesia kebanyakan, Brigata Curva Sud menyanyikan lagu yang masih asing bagi telinga awam penikmat sepakbola Indonesia karena liriknya pun yang terkadang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Italia.

Struktur Organisasi

Brigata Curva Sud tidak mengenal struktur kepengurusan dan juga pemimpin seperti dalam mottonya "No Leader Just Together", hal ini dimaksudkan agar seluruh anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam setiap pengambilan keputusan dan melaksanakan kebijakan yang telah disepakati. Tanpa kepengurusan, BCS bukan berarti liar tak terkendali. BCS memiliki cara sendiri untuk menjaga etika dalam memberikan dukungan kepada klub PSS Sleman. Brigata Curva Sud terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan puluhan hingga ratusan, dalam kelompok-kelompok tersebut diorganisir oleh satu koordinator yang telah ditunjuk oleh kelompoknya. Dalam mengambil kebijakan, koordinator-koordinator komunitas tersebut berkumpul untuk membahas persoalan yang ada sehingga mencapai kesepakatan bersama. Setelah mendapat kesepakatan, koordinator menyampaikannya ke anggota komunitasnya. Selain itu, Brigata Curva Sud juga sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan.

Ladies Curva Sud

Selain anggota Brigata Curva Sud yang mayoritas adalah kaum laki-laki, terdapat pula pendukung perempuan yang tergabung dalam subgrup dengan sebutan Ladies Curva Sud atau disingkatLCS. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda mulai dari pelajar, mahasiswi, wanita karir, hingga ibu rumah tangga sekalipun.
koreo Brigata Curva Sud saat PSS Sleman vs PPSM Magelang 27 Mei 2012

Loyalitas

Loyalitas Brigata Curva Sud terhadap tim kesayangannya terbukti dengan mewajibkan anggota komunitasnya membeli tiket untuk menonton pertandingan PSS Sleman. Sehingga tercipta istilah "No Ticket, No Game", hal tersebut mengakibatkan peningkatan pendapatan PSS Sleman yang sangat besar pada laga kandang mereka.
Kesetian para anggota Brigata Curva Sud yang selalu memegang teguh prinsip "Ora Muntir" yang berarti tidak takut apapun, selalu diaplikasikan dalam kehidupan seorang Ultras, misalnya:
  • Mereka membeli tiket masuk stadion. Brigata Curva Sud turut serta sebagai pelopor dalam mengkampanyekan kebiasaan membeli tiket untuk pertandingan PSS Sleman. Sehingga seluruh pendukung PSS Sleman (Sleman Fans) baik Brigata Curva Sud, Slemania, dan penonton umum selalu memegang prinsip "No Ticket, No Game". Bahkan BCS rela menyisihkan dana tambahan selain tiket untuk keperluan Dana Kreativitas.
  • Bernyanyi selama pertandingan berlangsung (90 Menit) tanpa henti. Terkadang suporter lain hanya bisa mencaci ketika klubnya ketinggalan ataupun kalah, tetapi tidak begitu dengan Brigata Curva Sud yang selalu berteriak lantang ketika klubnya kalah karena disaat seperti itu pemain lebih membutuhkan dukungan, bukan cacian. Mereka terus bernyanyi walau pertandingan berakhir dengan kekalahan.
  • Melakukan Koreografi. Ada yang berbeda di tribun yang di tempati Brigata Curva Sud ketika setiap menjelang dimulainya pertandingan babak kedua. Setiap orang membawa satu kertas bewarna yang tidak semuanya sama. Ketika peluit babak kedua ditiup, mereka mulai bernyanyi dan mengangkat kertas yang mereka bawa. Setelah diangkat ternyata membentuk suatu koreografi yang bisa dikatakan bagus. Ya inilah salah satu gebrakan baru yang dilakukan oleh Brigata Curva Sud ketika mendukung klub kebanggaannya, yaitu dengan melakukan koreografi menggunakan kertas. Koreografi yang mereka lakukan tidak hanya mampu melecut semangat pemain yang sedang bermain, tetapi juga mampu menghibur penonton lain yang ada di dalam stadion.
  • Mampu Membantu Keuangan Klub. Seperti suporter-suporter di luar negeri yang mampu menghidupi klub kebanggaannya, Brigata Curva Sud berusaha untuk mampu memberikan dukungan tehadap klub kebanggaannya dengan membantu keuangan klubnya. Saat ini banyak klub-klub di Indonesia yang tidak mampu membayar pemainnya yang sudah dikontrak. Seperti halnya kasus pemain yang sakit dan tidak bisa membayar biaya pengobatannya karena tunggakan gaji yang belum terbayarkan hingga akhirnya meninggal dunia. Hal seperti ini yang dihindari oleh Suporter PSS Sleman (Sleman Fans). Ketika suporter lain berusaha masuk ke dalam stadion dengan gratis, tidak begitu dengan mereka. Mereka membeli tiket karena itulah salah satu pemasukan terbesar dari klub kebanggaannya. Dengan membeli tiket maka mereka berpartisipasi dalam menghidupi klub kebanggaan warga Sleman.

Bisnis

Brigata Curva Sud menunjukkan konstribusi kepada tim kebanggaannya PSS Sleman dengan memiliki beberapa usaha yang beberapa persen royaltinya akan digunakan sebagai dana sponsor untuk tim kesebelasan PSS Sleman. Beberapa usaha Brigata Curva Sud diantaranya adalah Curva Sud Shop dan Curva Sud Market.

Curva Sud Shop 1976

Curva Sud Shop biasa disingkat CSS / CSShop yang berdiri sejak tahun 2012 merupakan outlet merchandise resmi Brigata Curva Sud. Outlet yang berada di komplek Ruko Delima ini menjual berbagai perlengkapan original Brigata Curva Sud. Di CSS dijual berbagai macam perlengkapan Brigata Curva Sud ketika mendukung klub kesayangannya, seperti kaos, jaket, syal, slayer dan berbagai perlengkapan lainnya. Keuntungan yang didapat oleh CSS beberapa akan disumbangkan untuk PSS Sleman.

Curva Sud Mart 1976

Curva Sud Mart atau CSMart semacam toko kelontong perlengkapan suporter, merupakan unit usaha baru milik komunitas suporter Brigata Curva Sud yang didirikan pada awal Juni 2013. Toko ini berada persis di depan Curva Sud Shop.

Sumber:  http://id.wikipedia.org/wiki/Brigata_Curva_Sud

Tentang Curva Nord Famiglia X 1967

LOGO CNF X 1967

Lambang CNF X 1967 terdiri dari gambar Padi, Muka Tertutup, 5 Bintang, Kaki Laba-Laba, Warna Merah dan Putih, dan tulisan Curva Nord Famiglia 1967 di dalam lingkaran.


ARTI LAMBANG CNF X 1967

Makna dari bagian-bagian gambar adalah sbb.: 
  1. PADI : Melambangkan sendi kehidupan. 
  2. ORANG DENGAN MUKA TERTUTUP : Memberi arti bahwa suatu identitas tidak penting, kita sama rasa tidak ada tingkatan dalam derajat
  3. 5 BINTANG : Mengartikan suatu kehormatan harus di junjung tinggi dengan penuh semangat pengorbanan.
  4. KAKI LABA-LABA : Mengartikan bahwa mampu berjalan mandiri danmerangkul tanpa melihat status seseorang dan di anggap semua sama.
  5. WARNA MERAH : Mengartikan bahwa warna  tim kebanggaan adalah MERAH yaitu PERSIBA BANTUL
  6. WARNA PUTIH : Mengartikan suci, Netral dan Anti POLITIC dalam Sepak bola .
  7. Tulisan CURVA NORD FAMIGLIA 1967 : Mengartikan kelompok nama suporter fanatik yang selalu setia mendukung PERSIBA 1967
Sumber: cnfx1967.blogspot.com

Mengenal Brigata Curva Sud Lebih Dalam

13918357901411920083
sumber gambar : bcspss.com
Setelah pertandingan PSS Sleman vs Timnas U19 waktu lalu ada beberapa pertanyaan, siapa supporter yang bernyanyi dengan sangat keras pada laga itu?. Ya mereka adalah supporter ultras nya PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS). Inilah perjalanan BCS supporter yang kini mulai jadi pusat perhatian di Indonesia karena kreatifitasnya.
1391835854891505313
sumber gambar : bcspss.com
13918358911369752248
sumber gambar : bcspss.com
BCS tak bisa dipungkiri adalah nafas baru yang membuat detak jantung PSS Sleman kembali berdenyut. PSS kala itu dilanda krisis financial yang membuat tim kebanggaan Sleman ini mulai meredup dan hampir padam. BCS datang bukan langsung menjadi seperti sekarang ini. Dimulai dari massa yang kecil namun mempunyai mimpi yang besar. Diremehkan? ya pada awal kebanyakan mungkin orang akan tertawa melihat supporter tribun selatan yang hanya secuil bernyanyi untuk tim yang sedang “bangkrut”. Namun mereka tetap “Ora Muntir!” (tidak takut) karena sebuah mimpi mereka membangun PSS Sleman. Karena memang unik dan mempunyai ide ide kreatif yang segar mereka mulai mendapat hati dari berbagai masyarakat. Ada yang dari asli Sleman ada pula Mahasiswa perantauan yang bergabung dalam BCS. Ide baju hitam lengkap dengan bandana dan bersepatu adalah atribut mereka. Bernyanyi lantang dan tidak menyanyikan lagu lagu berbahasa kasar dan mengintimidasi lawan atau supporter lain bahkan wasit, hanya fokus bernyanyi untuk PSS Sleman. Dan cita cita mereka adalah memberi dukungan financial bagi PSS yang kala itu dimulai dari berjualan kaos secara orang ke orang.
13918359341188004987
sumber gambar : bcspss.com
13918359601073553404
sumber gambar : bcspss.com
13918359952054620201
sumber gambar : bcspss.com
Seiring berjalannya waktu jumlah mereka semakin bertambah, namun tantangan tidak berhenti disitu. Mereka malah pernah tidak diijinkan masuk oleh panpel dengan alasan tribun yang mereka tempati digunakan supporter tamu. Mereka adalah “Curva Sud” (tribun selatan) dengan ideologi itu mereka tidak menempati tribun lain karena memang menghormati penonton yang lain. Akhirnya mereka bernyanyi di halaman stadion tetap keras dan lantang dan bersemangat hingga peluit akhir dibunyikan, Luar biasa!
13918360771612902607
sumber gambar : bcspss.com
1391836103624721004
sumber gambar : bcspss.com
13918361311465478055
sumber gambar : bcspss.com
Akhirnya mereka mulai diakui dan ternyata mereka membuktikan pengakuan keberadaan BCS ini lebih dari ekspetasi. Bukan hanya dukungan dilapangan, mereka membangun unit usaha untuk PSS Sleman, dari mulai distro CSS Shop, CS Mart, CS Pegadaian (untuk membantu anggota yang kesulitan dana saat away) dan CS Magazine. Aksi distadion juga luar biasa salah satunya adalah koreo yang sudah menjadi ciri mereka. Tak salah jika hanya di fanpage PSS Sleman yang bertanya “tadi koreonya apa lik?”.  Ini yang membuat Maguwo dari yang sepi penonton hingga kini yang sesak penuh penonton. Keluarga  pun menjadi nyaman datang ke stadion karena memang edukasi kedewasaan yang baik dari mereka mempengaruhi suasana di stadion. Chants tidak ada yang berbahasa kasar membuat anak anak pun nyaman menghapalkan lagu lagu BCS. Bahkan chants mereka menjadi edukasi yang baik karena berbahasa Italy, Inggris dan Indonesia membuat orang mau belajar bahasa. Kenapa tidak ada bahasa jawa? itu sudah milik Slemania, sehingga saat kita di stadion kita disuguhkan suasana eropa di tanah jawa sungguh sangat mengasikan.
1391836587136627964
sumber gambar : bcspss.com
13918366111953040194
sumber gambar : bcspss.com
1391836672797957350
sumber gambar : bcspss.com
BCS Sendiri juga beranggotakan kaum wanita yang cukup banyak yang tergabung dalam Ladies Curva Sud. Bukan hanya itu beberapa anggota mereka adalah bule yang mengeyam pendidikan di Yogyakarta. Uniknya mereka adalah kelompok besar yang tidak memiliki ketua. Why? karena itulah hebatnya mereka “No leader just together” kebersamaan adalah semangat dari BCS. Itulah yang menjadi edukasi setiap anggota BCS untuk menjaga attitude nya. Tak heran jika di stadion BCS hanya satu banner besar saja yang terpasang seperti apa yang anda lihat dilayar kaca “Brigata Curva Sud x PSS Sleman Vinci Per Noi” (Brigata Curva Sud for PSS Sleman menanglah untuk kami).
139183645061316387
sumber gambar : bcspss.com
1391836480767822555
sumber gambar : bcspss.com
13918365051890702573
sumber gambar : bcspss.com
Mungkin masih banyak cerita yang ada namun sedikit pengenalan ini semoga bermanfaat untuk supporter lain di Indonesia. Saya pernah mengatakan kepada mereka “Kalian supporter terbaik di Indonesia!” namun mereka menjawab “Belum mas kami masih belajar dan akan terus belajar, masih banyak yang akan kami kerjakan untuk PSS Sleman”. Merinding saya mendengar jawaban seperti ini dari mereka, tetap rendah hati layaknya orang jawa. Supporter yang mulai dikenal didunia namun masih ingin belajar dan belajar.
13918367081105827865
sumber gambar : bcspss.com
Salut saya dengan BCS dan saya mewakili teman teman kompasiana Sleman mengucapkan “Sugeng tanggap warso (selamat ulang tahun) untuk Brigata Curva Sud yang ke 3″ Makin kompak dan kreatif semoga koreo 3D nya segera terealisasi, terimakasih telah memberi warna yang luar biasa untuk sepak bola Indonesia
13918367431632327552
sumber gambar : bcspss.com

Sumber: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/02/08/mengenal-brigata-curva-sud-lebih-dalam-633633.html