Friday, 7 March 2014

Apa Itu Anonymous?


Anonymous adalah kelompok Aktivis atau "Hacktivis" yang dibentuk pada tahun 2003. Para anggotanya dapat dibedakan di depan publik dengan mengenakan topeng Guy Fawkes atau yang biasa dikenal V for Vendetta. Pada tahun 2011, Majalah Time memasukkan nama "Anonymous" sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia.

Anggota Anonymous saat mengikuti Occupy Wall Street

Anggota Anonymous di salah satu aksi demonstrasi

Pesan dari Anonymous

Waktunya telah tiba bagi orang-orang di dunia untuk bersatu. Anda tidak dapat menunggu untuk sebuah Revolusi, anda adalah revolusi itu sendiri, kami adalah revolusi, kekuatan kami adalah pada jumlah.
Anonymous memerlukan bantuan anda, orang-orang di seluruh dunia meminta bantuan anda!
Kami melakukannya karena kami bisa! Kami melakukannya untuk masa depan anak-anak kami dan semua kehidupan di planet ini. Kami melakukannya karena kami melihat kebohongan dan tipuan. Anonymous adalah semua orang. Semua orang adalah Anonymous. Sekarang! anda juga bisa menjadi Anonymous. Bergabunglah dengan kami, Anonymous!
We do not forget.
We do not forgive. We are legion. Expect us.

Keanggotaan

Tidak ada cara bagaimana bergabung dengan Anonymous, karena kita semua bisa menjadi Anonymous, Anonymous tidak memiliki pemimpin dan tidak memiliki struktur organisasi.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anonymous

Thursday, 6 March 2014

Suporter Tampilkan Koreografi Bentuk Bendera Merah Putih


Aksi kreatif kembali dipertontonkan para suporter Indonesia saat laga Indonesia U-23 vs Malaysia U-21 di stadion Maguwoharjo, Rabu (5/3/2014) malam. Para suporter memeragakan sebuah koreografi menggunakan potongan kertas.
Atraksi ini dilakukan oleh kelompok suporter di tribun selatan, belakang gawang. Potongan kertas yang jumlahnya ribuan disusun menjadi bentuk bendera Indonesia, merah putih.
Di tengah merah putih itu, ada tulisan INA yang merupakan inisial resmi Indonesia di dunia sepak bola internasional. Atraksi terus berlanjut dengan memainkan kertas itu naik turun dan dikepak-kepakkan.
Para penonton yang melihat dari sisi tribun lainnya memberikan tepuk tangan atas aksi itu. Selesai melakukan kereografi, para suporter mengepal-kepal kertas kemudian dilemparkan bersama-sama ke lapangan.
Aksi suporter di Yogya dalam memberikan dukungan memang sering mendapat pujian. Bahkan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin sengaja melihat langsung pertandingan itu untuk melihat atraksi penonton.
"Saya nanti mau nonton langsung ke stadion, mau lihat atraksi penonton. Bagus sekali atraksi mereka, saya kagum," kata Djohar sebelum pertandingan.
Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2014/03/05/suporter-tampilkan-koreografi-bentuk-bendera-merah-putih/

Tuesday, 4 March 2014

Laga Timnas Indonesia U-23 vs Malaysia U-23 "No Flare!

Ilustrasi: Flare di pertandingan sepakbola

Para suporter yang menyaksikan laga persahabatan internasional antara Timnas Indonesia U-23 vs Malaysia U-23 di stadion Maguwoharjo diharapkan bisa berlaku tertib. Hal-hal sepele semacam menyalakan petasan, kembang api, atau harus dihindari agar Yogyakarta terus bisa dipercaya PSSI untuk menggelar laga timnas yang berskala internasional.
Yogyakarta terbilang beruntung karena dilirik oleh PSSI untuk menggelar laga uji coba tim Garuda Muda dalam persiapan menuju Asian Games 2014 di Korea Selatan. Sebab, ada banyak kota-kota lain di Indonesia yang memiliki fasilitas stadion berstandar internasional lengkap dengan fasilitas pendukung lainnya.
"Ketertiban penonton menjadi salah satu pertimbangan bagi PSSI untuk memilih lokasi pertandingan bagi timnas. Dan Yogya ini, ketertiban suporternya terbilang cukup bagus bila dibanding kota-kota lain," kata Syauqi Soeratno, Chairman LOC pertandingan Timnas U-23 vs Malaysia.
Agar pertandingan tersebut bisa berjalan lancar, Syauqi berharap para kelompok suporter di seluruh Yogya bisa tertib tanpa harus menyalakan flare sepanjang pertandingan. Bila para suporter tetap nekad menyalakan flare dan sejenisnya, justru mereka sendiri yang akan merugi.
"Bisa jadi citra Yogya di mata PSSI yang selama ini suporternya dinilai tertib akan berubah. Imbasnya, pertandingan timnas bisa saja digelar di kota lain. Kalau begitu yang rugi nanti kan masyarakat Yogya sendiri," kayta Syauqi lagi.
Bersahabatnya Kota Gudeg juga terbukti dengan digunakan sebagai "padepokan" bagi timnas U-19 dan timnas U-23 yang menggelar pemusatan latihan. Bahkan bagi timnas U-19, sampai menggelar tiga pertandingan uji coba di Yogyakarta. "Yogya ini sudah seperti kandang kedua bagi semua timnas," kata Syauqi lagi.
Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2014/03/03/laga-timnas-indonesia-u-23-vs-malaysia-u-23-no-flare/

Ketika Negara Kalah Dari Suporter Sepakbola

Pertandingan antara Persib menjamu persija dalam lanjutan Kompetisi Liga Super Indonesia 2014 yang sedianya digelar sabtu 22 Februari 2014 akhirnya batal digelar, tidak keluarnya izin dari pihak kepolisian menjadi penyebab utama, otoritas keamanan beralasan bahwa pertandingan ini berpotensi untuk mengganggu keamanan dan ketertiban serta berpotensi konflik yang mengganggu masyarakat, pertanyaannya adalah: apa semenakutkan itu ancaman dari sebuah pertandingan sepakbola di negeri ini sehingga kepolisian dengan seluruh kemampuan dan sumberdaya yang yang dimilikinya merasa tidak akan mampu mengatasi situasi yang mungkin terjadi?

Rivalitas Suporter

Ada semacam kekeliruan yang naïf ketika kita ingin mencari solusi terhadap perseteruan supporter sepakbola di Indonesia, kita selalu menyodorkan sesuatu yang tidak rasional, tidak konkret, dan terlalu mengawang-awang yaitu perdamaian. Bukannya tidak setuju terhadap perdamaian, usaha kearah sana layak diapresiasi dan mendapat dukungan semua pihak namun kita pun harus mengakui bahwa dalam perseteruan supporter sepakbola berlaku hukum “sekali api menyala maka akan sulit memadamkannya” ibarat sekali memulai maka jangan harap untuk mengakhirinya dengan mudah, ini mencakup kondisi sosiologis dan psikologis supporter sepakbola yang berseteru. Kita pun harus menerima kenyataaan bahwa permusuhan ini telah berlangsung bertahun-tahun dan tertanam diakar rumput, sehingga tidak lucu juga ketika pertandingan tinggal memasuki hitungan hari kemudian muncul pihak bagai sosok malaikat yang menyerukan perdamaian. Solusi yang rasional bukanlah kearah didamai-damaikan karena hanya akan menguras energi, namun diarahkan bagaimana caranya untuk meminimalisir konflik agar tak merugikan masyarakat umum dan jangan sampai para pemain menjadi korban. Tidak mudah memang, namun tentunya itu bisa dilakukan, berkaca ke luar negeri, rivalitas klub yang merembet kepada rivalitas suporter terjadi lebih “gila” bahkan berlangsung hingga puluhan tahun, namun tak pernah ada ceritanya ketika Boca Junior berhadapan dengan River Plate di Argentina maka kemudian pihak kepolisian di Argentina melarang pertandingan tersebut, yang ada adalah otoritas keamanan setempat menghadapi pertandingan ini lebih serius dan melakukan persiapan lebih dari biasanya, berbagai antisipasi pun dilakukan. Karena memang itulah fungsi dan tugas mereka dalam konteks bernegara, yaitu menjaga dan menjamin keamanan. Selain itu otoritas sepakbola di setiap negara pun dituntut mampu memerankan peranan dengan baik, upaya minimal yang sudah dianggap universal adalah pemberlakuan prinsip “dosa suporter ditanggung klub”, ini diharapkan mampu menjadi sebuah kontrol bahwa jika suporter tersebut memang benar-benar mencintai klubnya maka sebajingan apapun dia, maka dia dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan tim kesayangannya.

Peranan Aparat

Pasca reformasi, pemisahan TNI-POLRI menjadi tegas, bahwa TNI memiliki fungsi pertahanan seperti mempertahankan batas Negara, perang dsb, sementara POLRI memiliki fungsi keamanan yang berorientasi kepada kondusifitas dalam negeri, keamanan dalam pertandingan sepakbola sebagai agenda nasional jelas menjadi ranah kepolisian. Pemisahan TNI-POLRI yang ditegaskan melalui peraturan perundang-undangan setingkat undang-undang selain bertujuan mempertegas fungsi dan kewenangan institusi pun dimaksudkan agar keduanya mampu fokus serta meningkatkan profesionalisme, salah satu parameternya adalah memiliki kemampuan untuk menanggulangi segala persoalan yang menjadi tugasnya dengan lebih baik dan cakap, dalam hal ini pihak kepolisian dianggap mampu dan berdaya untuk menangani masalah keamanan yang timbul dari titik manapun termasuk konflik  keamanan dalam sepakbola, karena untuk itulah mereka memiliki SDM yang dilatih, dipersenjatai, dan memiliki kewenangan untuk menegakan hukum, karena solusi yang paling logis adalah  penegakan hukum secara tegas, khususnya hukum pidana yang telah mengatur secara lengkap tindakan-tindakan suporter sepakbola yang biasa terjadi dan mengarah kepada kriminal murni, seperti perusakan barang, penganiayaan, membawa senjata tajam, minuman keras dan narkoba, hingga pelanggaran di jalan raya, semua itu jangan sekedar dianggap tipiring. Tapi proses serius jika terbukti memenuhi delik pidana, penjarakan agar jera, terutama jika semua tindakan suporter itu sudah terjadi di luar 2×45 menit pertandingan kedua tim.

Maka jelaslah ketika menghadapi pertandingan sepakbola yang berpotensi konflik, tugas dari kepolisian adalah mengamankan jalannya pertandingan, bukan meniadakannya, jangan selalu ingin berpikir mudah dan sederhana untuk persoalan-persoalan serius yang mungkin perlu diselesaikan dengan pemikiran dan upaya ekstra. Ketika pertandingan ini dianggap berbeda dari pertandingan lainnya, maka hadapi pula dengan cara yang berbeda, tambah personil keamanan, jika biasanya tak pernah melakukan survey maka lakukan survey dan analisa sebelum pertandingan, dengan segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki tentunya pihak kepolisian mampu melakukannya. Sepakbola sebagai tontonan dan agenda olahraga nasional adalah hak warga negara, dan negara wajib hadir untuk mengawasi dan memastikan agenda ini berjalan lancar dan hak warga Negara terpenuhi.

Sumber: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/03/05/ketika-negara-kalah-dari-suporter-sepakbola-639421.html

Foto Aksi Brigata Curva Sud Saat Disorot Kamera TV

















Jelang Duel Clasik Indonesia vs Malaysia

1393850772670952574
gambar :www.artisbola.com
Timnas Indonesia U-23 dan Timnas Malaysia Uu-23, akan saling bertemu dan saling baku hantam dalam pertandingan persahabatan yang akan di gelar di Yogyakarta 5/03/2014 pertengahan pekan ini.pertandingan perdana Indonesia VS Malaysia Ditahun 2014 ini akan menyita Perhatian pecinta sepak bola tanah air.

Biarpun pertandingan ini hanya pertandingan uji coba.Pertandingan ini di perkirakan akan tersaji panas, mengingat sejarah perseteruan dan persaingan kedua tim ini dilevel Asia Tenggara. bukan hanya di lapangan hijau di dunia maya pun tak kalah hebat kedua supporter saling serang jelang pertandingan tersebut .

Malaysia yang mempunyai Misi balas dendam Atas kekalahanya pada ajang Sea Game Myanmar kemaren yang harus mengakui ke unggulan Indonesi 5-4 dengan drama adu penalty dan mempupuskan ambisi mereka untuk melaju ke final di sea game Myanmar ,Malaysia akan berjuang mati-matian untuk membalas dendam sekaligus mempermalukan Timnas Indonesia Di depan pendukungnya sendiri. Tapi sayangnya Timnas yang akan di turunkan melawan Indonesia adalah TIMNAS MALAYSIA u-23 B,

Sementara Timnas Indonesia U23 yang akan bertanding di hadapan pendukungnya sendiri tentunya tidak mau kehilangan muka, mereka akan berjuang Sekuat tenaga untuk melumat timnas malaysia u-23. Kemenangan atas Malaysia tahun yang lalu akan memberi nila plus bagi Timnas besutan aji santoso tersebut. Selain itu Timnas u-23 tak ingin menyia-nyikan hal ini untuk mengangkat pamornya di mata pendukung Timnas Indonesia yang pada akhir-akhir ini selalu tertuju pada TIMNAs U-19. Dengan munculnya pemain-pemain baru di harapkan hal ini menjadi gebrakan timnas u-23.

Pertandingan ini di jadikan pertandingan pemanasan pertama dari 9 pertandingan yang akan di jadwalkan sekaligus sebagai persiapan jelang tampil di ajang Asian Games, Korea Selatan, September-Oktober 2014.

Skuad Garuda Muda U-23

PENJAGA GAWANG:
1. Dimas Galih Pratama (PERSIJAP Jepara)
2. Aji Saka (PERSEPAM Madura United)
3. Yogi Triana (PERSITA Tangerang)
4. Teguh Amiruddin (PERSERU Serui)

PEMAIN BELAKANG:
1. Dany Saputra (PERSIJA Jakarta)
2. Muhammad Nizar Ashari (PERSEBA Super Bangkalan)
3. Mokhamad Syaifudin (PBR Bandung Raya)
4. David Aprelianto (PSMP Mojokerto Putra)
5. Vava Mario Yagalo (PERSEBAYA Surabaya)
6. Novrianto (PSPS Pekanbaru)
7. Achmad Bachtiar (PERSEKAP Pasuruan)
8. Syahrizal (PERSIJA Jakarta)

PEMAIN TENGAH:
1. Rizky Ahmad Sanjaya Pellu (PBR Bandung Raya)
2. Rasyid Assyahid Bakri (PSM Makassar)
3. Loudry Meilana Setiawan (Putra Samarinda)
4. Novri Setiawan (PERSEBAYA Surabaya)
5. Yulianto (PSS Sleman)
6. Fandi Eko Utomo (PERSEBAYA Surabaya)
7. Tonny Roy Ayomi (PERSERU Serui)
8. Dave Mustain (PERSEKAP Pasuruan)
9. Bayu Gatra Sanggiawan (Putra Samarinda)
10. Rizki Ramdani Lestaluhu (PERSIJA Jakarta)
11. Hendra Adi Bayauw (Semen Padang FC)
12. Hafid Ibrahim (Sriwijaya FC Palembang)

PEMAIN DEPAN:
1. Agung Supriyanto (PERSIJA Jakarta)
2. Fandi Ahmad (PERSEBA Super Bangkalan)
3. Rizky Dwi Ramadhana (Sriwijaya FC Palembang)
4. Aldaier Makatindu (Putra Samarinda)

Skuad Harimau Muda B
Penjaga gawang: Ahmad Solehin Mamat, M. Ramdhan Ab Hamid

Bek: Mohd Akmal Chin, Mohamad Ashmawi Md Yakin, Muhammad Afi Azuan, M Syazwan Zaipol Bahari, Azrul Nizam Muhammad, Abdullah Suleiman, M. Syawal Nordin, Annas Rahmat

Gelandang: Sahrul Igwan Samsudin, M. Naim Zakaria, M. Nor Azam Azih, M Faris Shah Mohd Rosli, M. Irfan Zakaria, M. Afiq Fazail

Penyerang: M. Syafwan Syahlan, Ramzi Haziq Mohamad, M. Ramzi Sufian, Nurshamil Abd Ghan

Sumber: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/03/03/jelang-duel-clasik-indonesia-vs-malaysia-636097.html

Saturday, 1 March 2014

No Flare No Party Guys!

13934951801482525146
Ilustrasi/Admin (Tribunnews)
Flare? apakah flare adalah kembang api? sebagian orang ternyata masih mengira sebuah flare itu adalah kembang api. Alangkah lebih baiknya kita mengenal flare lebih dulu,  flare merupakan pyroteknik yang menghasilkan cahaya terang (api)/panas yang intens tanpa disertai ledakan. Penggunaan flare sebenarnya ditujukan bagi perlengkapan militer, yaitu untuk digunakan sebagai sinyal (SOS), alat penerangan untuk itu kenapa flare tidak padam bahkan di air. Lalu siapa yang “membawa” flare ini ke ranah sepak bola? tidak banyak yang tahu memang namun satu hal Ultras adalah “clan” yang mengenalkan against modern football yakni merubah era supporter lama yang hanya duduk membunyikan terompet yang bising, mereka rubah dengan bernyanyi lantang, pyroshow (flare), dan berdiri 90 menit.
13934916621292813511
Sumber: bcspss.com
Nah, bagaimana di Indonesia? ya flare akhir akhir ini menjadi topik yang ada beberapa pihak yang merasa terganggu dengan kehadiranya. Sekilas info saja di Bundesliga dan Seria A  flare adalah legal. Bahkan presiden Bayern Munich Uli Hoeness mengaku jika dirinya mendukung penggunaan flare di dalam Allianz Arena. Dia tidak menutupi fakta bahwa dirinya adalah “penggemar berat” flare. Di Indonesia flare terkadang memang menjadi hal yang mengganggu ini karena edukasi yang masih kurang. Aksi yang berlebihan terkadang malah mengganggu jalanya pertandingan itu sendiri.
1393491730444178317
Sumber bcspss.com
Saya awalnya juga merasa flare ini tidak perlu namun satu hari mengubah pandangan saya ini. Saya pribadi melihat aksi pyroshow ini saat pertandingan divisi utama saat PSS Sleman VS Persebangga. Saat itu mereka tidak sekedar membakar flare namun mereka membuat ring of flare di seantero stadion Maguwoharjo. Takjub saya melihat aksi yang gila ini, merinding, sangat berkesan dan menghibur. Mereka melakukan aksi ini sebelum pertandingan artinya tidak mengganggu pertandingan dan di akhir pertandingan tepat ketika wasit meniup peluit akhirnya.Bahkan aksi ini masuk ke dalam best action supporter world pada Tifo TV. Intinya flare adalah soal edukasi pada supporternya sendiri. Karena kualitas supporter sebenarnya ada pada kualitas edukasi yang berkembang di dalamnya.

Berikut saya sisipkan video aksi Brigata Curva Sud Sleman Pyroshow yang mampir di Tifo TV.

Salam Kreatif Supporter Indonesia!


Sumber: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/02/27/no-flare-no-party-guys-638222.html